Rabu, 28 Agustus 2013

Untuk Mereka yang Golput

Saya adalah anak yang hidup di keluarga saat membuat KTP, STNK, Akte Kelahiran, SIM, dkk tidak memakai calo. Keluarga yang jika ada pemilihan umum, pasti datang berpartisipasi dan memilih. Keluarga yang apapun Indonesia lakukan, akan kami dukung. Saya juga orang yang saat J.W. Marriot di bom, ikut mendukung gerakan Kami Tidak Takut #indonesiaunite. Inilah saya, yang sejelek apapun pemerintahan kita, se kotor apapun demokrasi kita, se dosa apapun calon pemimpin kita, tetap akan mendukung Indonesia, tetap akan memiliki semangat memperbaiki bangsa ini. Salah satu dukungan saya adalah memilih pemimpin terbaik dari deretan calon pemimpin terburuk. Dengan tidak membiarkan yang jelek, korup, kotor, dan dosa itu memimpin negara kita. Meskipun kita tahu bahwa pada dasarnya semua calon pemimpin yang terpampang di kertas surat suara itu buruk. Harus kita sadari bahwa kita memang bukan tipe negara yang pemerintahan nya sempurna, kita masih umur 68 tahun. Kita masih tipe negara yang masyarakatnya harus memilih calon pemimpin terbaik diantara yang terburuk, memilih mana yang mampu dan kredibel. Tidak seperti Amerika Serikat yang masyarakatnya sudah dapat memilih pemimpin yang mereka percaya, bukan lagi pemimpin yang mampu atau tidak, karena pada dasarnya semua calon pemimpinnya mampu mengemban amanah, mampu dalam ilmu, mampu dalam skill, mampu dalam menjadi pemimpin. Kita harus sadar itu.

Akan selalu ada yang bilang "Ah, cinta pada negara kan tidak hanya dengan memilih pemimpin yang benar, jalan yang lain masih banyak". Iya memang benar, saya setuju itu. Tapi perlu diingat bahwa pembawa perubahan terbesar dan tercepat adalah sistem. Bayangkan jika Indonesia dikuasi oleh pemerintahan yang korup terus, karena pemuda nya malas nyoblos, masyarakatnya muak dengan pemilihan umum dan demokrasi di Indonesia. Gerakan apapun yang kita lakukan di level masyarakat, tidak akan memberi dampak yang luas merata seluruh Indonesia. Tentu akan memberi dampak, tapi mungkin akan berjalan lama, susah dalam perijinan, susah dalam birokrasi. Kenapa susah? Karena pemimpin nya korup, dikasih uang baru jalan. Lalu kita masih mau menutup mata bahwa pemimpin itu tidak penting? Bahwa siapapun yang memimpin, kita masa bodoh? Sepandai-pandai manusia, jika sistem berkata tidak, ya akan dipaksa diam, tidak bisa berkata apa-apa. Pernah suatu ketika saya mendengarkan bincang di radio dengan salah satu dosen di Surabaya. Saat ditanya "Kenapa sih pak, kebanyakan akademisi akan berjuang mati-matian membela yang menurutnya benar, tapi jika ditarik untuk masuk tim oleh negara, tiba-tiba mereka diam, tidak seaktif dulu sebelum menjabat? Apa dikasih uang biar nggak bicara lagi?" Jawaban nya singkat "Sistem. Kita tidak bisa berkutik jika sistem berkata tidak. Memang dulu kita mati-matian berjuang, karena kita melihatnya secara teoritis, namun pada kenyataanya jauh berbeda".

Nah, apa kita akan terus berdiam, terus muak, terus mencaci petinggi, terus mencibir penguasa, tanpa melakukan perubahan? Tanpa mau turun tangan memperbaiki sedikit demi sedikit kekacauan yang ada? Saya kira sudah sepantasnya kita bersikap bijaksana, melakukan apa yang harus dilakukan meskipun kita benci melakukan itu, untuk menjadi yang lebih baik, untuk suatu perubahan.

Rabu, 07 Agustus 2013

Hilal dan Syawal

Ini adalah waktu dimana penampakan bulan sangat dinanti. Tak usah banyak, hanya 2 derajat dari ufuk barat. Selagi para Ibu bersiap dengan gule, soto, sate, sayur jengkol, dan makanan khas lainnya di dapur masing-masing, selagi anak tetangga sebelah bermain petasan, pemerintahan negara kita masih berdebat mengenai kapan takbir dapat dikumandangkan di seantero jagad nusantara. Tidak hanya tahun ini, semenjak saya sudah dapat mencerna berita pun sudah jadi "headline" langganan seluruh stasiun televisi, Sidang Itsbat yang agung, dihadiri berbagai perwakilan ormas di Indonesia serta beberapa perwakilan negara muslim lainnya, yang katanya menelan biaya milyaran rupiah, menunggu laporan dari sejumlah daerah apakah mereka telah melihat hilal yang dimaksud. Dan akan selalu ada perbedaan pendapat ormas satu dengan lainnya, sebut saja salah satunya Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama. Sederhana, masalahnya cuma perbedaan metodologi, yang NU memilih cara rukyat, yang Muhammadiyah memilih cara hisab. Pada dasarnya, rukyat adalah metode fisik, yaitu harus terlihat dengan mata manusia, sedangkan hisab adalah metode yang menggunakan perhitungan canggih, sama seperti kita melihat kalender masehi biasa, yang memang sejak awal tahun ditetapkan kapan 1 Januari dan kapan 31 Januari. Dulu saya tidak menganggap perdebatan tersebut aneh, namun sekarang rasanya hal tersebut memalukan sebuah agama besar yang suci, Islam. Lagi-lagi, bukan masalah harus menambah 1 hari puasa lagi, tapi dibalik itu. Betapa terlihat ketidakharmonisan umat muslim di negara kita, betapa rasa toleransi itu pelan-pelan memudar, betapa para ulama yang pandai itu harus terlihat bodoh di depan banyak umat karena tak pernah bisa mengatasi masalah perbedaan ini setiap tahunnya. Ayolah kita ini saudara, dalam silsilah kita pula ada Al Battani yang mempelajari ilmu astronomi pertama kali, dan sedari dulu Islam telah memakai patokan bulan dalam penentuan waktu, seharusnya kita sudah canggih dalam bidang itu, seharusnya itu bidang yang kita geluti dan pelajari sejak dulu, tapi kenapa masih saja ada perselisihan pendapat? Kalau kata Bapak Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, rektor UIN Jakarta, dalam bincang sore nya dengan stasiun Metro TV hari ini, "...perbedaan ini jelas menunjukkan bahwa umat Islam di seluruh dunia tidak dapat menentukan sistem penanggalan dengan baik". Ya, itu masuk akal. Bukankah telah diciptakan semesta ini berjalan runtut, beriringan dan berima dalam harmoni yang dapat kita pelajari? Bukankah alam ini terdapat pola yang dapat kita jadikan pelajaran? Lalu kenapa sejak dulu, kita sebagai umat yang mengandalkan perputaran bulan, tidak meneruskan perjuangan Al-Battani dalam ilmu astronomi nya? Buatlah sebuah sistem penanggalan yang paling akurat, entah dengan metode apapun itu, buatlah kesepakatan bersama dengan mengerahkan para cendekiawan muslim di seluruh dunia, kalau perlu kita pinjam alat atau ahli dari NASA untuk membuat sistem penanggalan "hijriyah tanpa protes". Mereka yang menggunakan matahari bisa membuat kalender masehi yang diakui di seluruh dunia tanpa ada yang protes, seharusnya kita juga. Kalau kata kakak saya akhir-akhir ini "coba bulan lain dalam Islam, nggak pernah tuh diributin, kenapa cuma Ramadhan yang diributin?". Nah kan, kita bahkan sudah mengakui bahwa alam ini berjalan runtut, dengan pengakuan bulan lainnya yang tidak pernah menuai protes. Berarti sebenarnya kita paham bahwa kita punya kalender yang sudah ditetapkan kapan awal bulan dan kapan akhir bulan. Muncul lagi satu masalah, ketidakkonsistenan. Jujur saja saya sedih melihat ini semua, padahal banyak cendekiawan dari Islam, tapi kenapa masih begini? Kenapa susah berjalan beriringan? Mungkin ego yang terlalu besar, mungkin kesombongan akan ilmu yang dimiliki sehingga tidak mau belajar lagi. Padahal dunia ini berubah sangat cepat. Yang saya lihat disini adalah kegagalan kita menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman tanpa melupakan norma-norma Islam. Kita terlalu terpaku dengan apa yang diajarkan dulu, tanpa kita modifikasi sedemikian rupa dengan perkembangan jaman. Itulah jadinya, akan ada yang bersikukuh menggunakan cara lama, dan ada yang mulai sadar untuk menggunakan cara baru yang lebih akurat dan mudah. Untuk awal bulan Syawal kali ini, doa saya disamping keinginan bertemu Ramadhan lagi tahun depan dalam keadaan sehat swngan seluruh keluarga, semoga umat muslim di seluruh dunia akan bertambah baik dan cerdas dalam menghadapi tantangan dunia yang cepat berubah ini.

Taqabbalallahu minna wa minkum. Selamat hari raya Idul Fitri 1434 H.

friends